Ditulis pada tanggal 21 April 2017, oleh s3mesin, pada kategori Uncategorized

3827_20631_modifikasi-motor-jadul-300x200

Kita mungkin sudah tidak asing dengan jenis mesin 2-tak maupun 4-tak. Tapi bagaimana dengan mesin 6-tak? Teknologi yang tengah dikembangkan Laboratorium Proses Manufaktur Universitas Brawijaya (UB) ini disebut-sebut lebih bertenaga dan ramah lingkungan. Dosen Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Dr. Eng. Eko Siswanto, ST., MT., sedang mengemngembangkan mesin 6-tak empat tahun terakhir ini. Mesin tersebut masih berwujud prototipe. Eko memodifikasi mesin motor 4-tak Honda CB 125 cc keluaran tahun 1970-an.

Sekilas, kelihatannya tidak ada perubahan besar dari mesin itu. Meski sebenarnya, Eko sudah mengubah cylinder head mesin tersebut sedemikian rupa, hingga berkapasitas 6-tak. Pria 47 tahun ini mengungkapkan, mesin 6-tak harusnya sudah bisa menggantikan keberadaan mesin 2-tak maupun 4-tak. Mesin teknologi lama itu dianggap boros bahan bakar. Di dunia permesinan, mesin 6-tak sebenarnya bukan hal yang asing. Sejumlah ilmuwan dari berbagai negara juga tengah mengembangkan mesin 6-tak.

Mesin yang dikembangkan Eko sedikit berbeda. ”Mesin 6-tak yang sudah lebih dulu dikembangkan, yakni mesin generasi pertama masih boros bahan bakar. Sebab, belum memanfaatkan teknologi injeksi,” ujar bapak tiga anak tersebut.

Mesin yang banyak dikembangkan di luar negeri ini menggunakan dua bahan bakar, yakni solar dan air. Sementara, mesin yang dikembangkan Eko hanya menggunakan satu jenis bahan bakar, yakni bensin. ”Penemuan mesin 6-tak UB ini sudah menggunakan satu jenis energi, tidak memerlukan proses sinkronisasi. Sehingga, mesin bisa bekerja dengan baik. Penggunaan bahan bakarnya juga bisa efisien sekitar 20 persen,” ungkap pria kelahiran 17 Oktober 1970 itu.

Belakangan, Eko juga mulai menjajal bahan bakar pengganti fosil. Yakni biofuel seperti etanol. Dengan begitu, mesin 6-tak karya Eko ini lebih ramah lingkungan. Menciptakan mesin ramah lingkungan sudah menjadi citacita Eko. Bahkan, gagasan membuat mesin motor 6-tak yang ramah lingkungan, muncul sejak dia masih mahasiswa. Yakni, saat dia masih 20 tahun. ”Waktu itu saya berpikir, mesin 4-tak lebih irit dan tenaganya kuat. Lalu, bagaimana jika 6-tak?” beber dia.

Logikanya waktu itu, mesin 6-tak harusnya lebih baik, dari sisi apa pun. Tapi, setelahnya, gagasan Eko seolah menguap. Hingga akhir nya, pada 2013, Eko memulai riset dan pengembangan mesin 6-tak. Soal konsep, tak ada masalah berarti. Eko baru menemui kendala saat mengaplikasikannya pada mesin Honda CB 125 cc. Sebab, bukan hal yang gampang untuk mengubah mesin 4-tak menjadi 6-tak. Dia mesti mengubah cylinder head. Awal percobaan, Eko sempat kesulitan menghidupkan mesin. Itu membuatnya bingung selama berbulan-bulan.

Hingga akhirnya, dia menemukan ada yang harus diubah pada sistem pengapian. Meski sejauh ini, mesin 6-tak buatannya sudah sesuai harapan. Bahkan, konsep mesin 6-tak yang dia buat tidak hanya bisa diaplikasikan untuk sepeda motor. ”Ada juga yang kasih masukan agar mesin ini bisa digunakan untuk helikopter,” kata pria yang berdomisili di Singosari. Lebih lanjut, Eko menyatakan, mesin 6-tak kreasinya tersebut sudah dipatenkan, dengan nomor paten 000040589. Dia juga membuka pintu bagi pihak manapun yang ingin me ngaplikasikan mesinnya. Baik itu untuk sepeda motor, maupun helikopter. ”Tapi untuk berapa harga mesinnya, kami belum tentukan. Karena kami baru membuat untuk skala laboratorium,” pungkas Eko.

Sementara itu, Pradana Putra, salah seorang mahasiswa Eko yang dilibatkan dalam pe ngem bangan mesin 6-tak mengaku, mendapatkan tugas untuk mencari bahan bakar alternatif. Belakangan, dia mencampur bahan bakar fosil (contohnya bensin) dengan etanol. ”Arahnya, mesin ini memang akan menggunakan biofuel,” tukas dia. (Radar Malang/mic/Humas FT)

Disadur dari: http://radarmalang.jawapos.com/read/2017/04/21/3827/eko-siswanto-dosen-ub-kembangkan-motor-6-tak