Nama Universitas Brawijaya diberikan oleh Presiden Republik Indonesia melalui Kawat Nomor 258/K/1961 pada tanggal 11 Juli 1961, yang pada awalnya bernama Universitas Kotapradja Malang. Statusnya menjadi Universitas Negeri sejak tanggal 5 Januari 1963 dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan melalui surat Keputusan Nomor 1 tahun 1963, lalu dikukuhkan dengan Keputusan Presiden RI Nomor 196, yang selanjutnya tanggal 5 Januari ditetapkan sebagai hari lahir Universitas Brawijaya.

Fakultas Teknik Universitas Brawijaya diresmikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 167 tahun 1963 tanggal 23 Oktober 1963, yang sebelumnya diprakarsai oleh Ir. Imam Soetjipto, Ir. Soemardi, dan r. Suryono, Ir. Soejoso, Ir. J. Tahir, Ir. Soebagio, Ir. Lud Soedarto dan Ir. Tan po Tjiang (Haryadi). Fakultas Teknik pertama kali berdiri dibawah pimpinan Dekan Ir. Suryono dan Ir. Soebagio, Ir. Soemadi selaku Ketua Jurusan Teknik Mesin dan Sipil. Sistem studi yang dilaksanakan pada awalnya menerapkan sistem studi bebas, yaitu dg tidak membatasi lama studi, dilaksanakan 1 tahun penuh baru dilakukan evaluasi. Lalu pada tahun akademik 1967 perkuliahan dan evaluasi dilaksanakan per semester.

Mahasiswa dikelompokkan menjadi 3 tingkat, yaitu Tingkat Persiapan, Tingkat Sarjana Muda, dan Tingkat Sarjana. Masing-masing tingkat setelah meluluskan semua mata kuliah di setiap tingkat akan mendapatkan Ijazah (Persiapan, Sarjana Muda, dan Sarjana). Jurusan Teknik Mesin pada awalnya diajar oleh tenaga Dosen Luar Biasa terutama dari instansi Proyek Brantas, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Pekerjaan Umum dan dari Swasta. Fasilitas Laboratorium sangat terbatas dan sebagian praktikum dilaksanakan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dengan kondisi seperti itu, maka baru bisa meluluskan seorang Sarjana : Ir. Abel Silalahi (Alm).

Pada tahun 1980 sesuai ketentuan Pemerintah RI, Fakultas Teknik menggantikan sistem pendidikan yang sedang berlangsung dengan program pendidikan Strata I ( S1 ).Pada sistem ini mahasiswa dibebani studi sebanyak 160 sks yang didistribusikan dalam 9 semester dengan evaluasi prestasi mahasiswa tiga kali yaitu evaluasi pertama setelah 2 tahun, evaluasi kedua setelah 4 tahun, dan evaluasi terakhir setelah 7 tahun mahasiswa harus sudah lulus, dan hanya diterbitkan satu ijazah sarjana S1.

Pada tahun 1984 Pemerintah menunjuk lima Perguruan Tinggi Negeri termasuk di dalamnya Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jurusan Teknik Mesin dan Teknik Elekro untuk melaksanakan Proyek Percepatan Pendidikan Insinyur (Proyek PPI) sampai tahun 1996. Program ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga sarjana teknik untuk sektor industri yang telah berkembang sangat pesat akibat pesatnya proses industrialisasi dalam pembangunan Nasional.

Dengan adanya program ini maka semua kebutuhan akan ruang dan sarana pendidikan lainnya secara berangsur-angsur dapat dipenuhi, sehingga pada tahun 1985 dibangun gedung kuliah dan laboratorium untuk jurusan Teknik Mesin dan Teknik Elektro. Selain itu masa studi mahasiswa jurusan Teknik Mesin rata-rata menjadi 5,5 tahun. Buku Pedoman Pendidikan Fakultas Teknik setiap 4 tahun dievaluasi, disempurnakan dan disesuaikan denagn perkembangan ilmu pengetahuan dan industri. Pada tahun 1980 mulai diberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS) dengan beban studi 160 sks. Setelah mengalami evaluasi beberapa kali pada akhirnya pada tahun akdemik 1999/2000-2002/2003 beban studi minimal mahasiswa berkurang menjadi 144 sks. Berkurangnya jumlah tersebut tidak berarti mengurangi materi pembelajaran mahasiswa, namun justru mengefektifkan pelaksanaan perkuliahan yang dirasa ada jumlah sks yang berlebihan untuk suatu mata kuliah tertentu.